Ada godaan yang muncul ketika tinggal di luar negeri: melihat sesuatu yang terasa berjalan baik, lalu membayangkan betapa baiknya jika hal yang sama dibawa pulang.
Sepeda. Transportasi. Tata kota. Sistem administrasi. Cara belajar. Ruang publik. Cara orang bekerja.
Sebagian memang menawarkan pelajaran yang berharga. Tetapi pengalaman hidup di Groningen justru membuat saya semakin yakin bahwa kontribusi tidak dimulai dari menyalin bentuk.
Kontribusi dimulai dari kemampuan membedakan prinsip dan produk akhirnya.
Membawa pelajaran, bukan sekadar salinan.
Yang layak dibawa pulang: cara berpikir di balik sebuah sistem
Hal pertama yang menurut saya layak dibawa adalah kebiasaan bertanya tentang desain sistem.
Groningen memberi contoh yang mudah dilihat melalui mobilitas. Kebijakan kota memberi ruang lebih besar untuk berjalan kaki, bersepeda, ruang hijau, dan aktivitas publik. Tetapi yang penting bukan sekadar jumlah sepeda di jalan.
Yang penting adalah konsistensi antara tujuan dan keputusan sehari-hari.
Jika sebuah kota ingin orang berjalan kaki, trotoar harus dapat dipakai.
Jika ingin orang bersepeda, perjalanan harus cukup aman dan tersambung.
Jika ingin transportasi publik menjadi pilihan, perpindahan antarmoda harus cukup masuk akal.
Prinsip ini dapat diterjemahkan ke banyak konteks di Indonesia meskipun bentuk akhirnya berbeda.
Di satu kota, jawabannya mungkin jalur pejalan kaki.
Di kota lain, angkutan pengumpan ke stasiun.
Di wilayah kepulauan, konektivitas antarpulau dan kepastian jadwal mungkin jauh lebih menentukan.
Yang dibawa pulang bukan “sepeda ala Groningen”, melainkan disiplin untuk menyambungkan tujuan, desain, dan pengalaman pengguna.
Yang layak dibawa pulang: kepastian kecil yang mengurangi beban besar
Hal kedua adalah perhatian pada kepastian.
Sistem yang baik tidak selalu terasa spektakuler. Sering kali ia hanya membuat orang tidak perlu bertanya terlalu banyak untuk menyelesaikan urusan yang sederhana.
Di ruang akademik, kepastian dapat berarti kriteria tugas yang jelas, jadwal yang konsisten, atau ruang untuk bertanya tanpa takut dianggap tidak mampu.
Dalam layanan publik, kepastian dapat berarti prosedur yang dapat ditemukan, status yang dapat diperiksa, dan penjelasan mengenai apa yang harus dilakukan setelah satu tahap selesai.
Prinsipnya sederhana: jangan membuat pengguna menanggung kerumitan yang sebenarnya dapat diselesaikan oleh desain sistem.
Indonesia tentu memiliki konteks dan kapasitas layanan yang beragam. Karena itu, kepastian tidak selalu harus hadir melalui teknologi yang rumit. Kadang ia dimulai dari informasi yang konsisten, tanggung jawab yang jelas, dan proses yang tidak berubah tanpa penjelasan.
Yang layak dibawa pulang: budaya memelihara, bukan hanya membangun
Ada perbedaan besar antara membangun sesuatu dan memastikan sesuatu tetap berfungsi.
Ruang publik, fasilitas transportasi, sistem digital, laboratorium, atau program pendidikan kehilangan manfaatnya ketika pemeliharaan tidak menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.
Pengalaman hidup di Groningen membuat saya lebih peka pada hal-hal yang tampak kecil: marka yang diperbarui, aturan parkir sepeda, penyesuaian jalur, informasi ketika pekerjaan jalan berlangsung, atau perubahan desain ketika kebutuhan ruang berubah.
Tidak semuanya sempurna. Justru dari situ pelajarannya terasa lebih masuk akal: sistem publik adalah pekerjaan yang terus dikoreksi, bukan proyek yang selesai ketika pita dipotong.
Bagi saya, orientasi pada pemeliharaan adalah salah satu hal paling berharga untuk dibawa pulang.
Yang tidak layak dibawa pulang: keyakinan bahwa satu bentuk cocok untuk semua tempat
BPS mencatat Indonesia memiliki sekitar 1,89 juta km² wilayah dan 17.001 pulau pada 2025.
Angka itu cukup untuk mengingatkan bahwa “Indonesia” bukan satu konteks tunggal.
Sebuah pendekatan yang masuk akal di pusat Jakarta dapat tidak relevan di pulau kecil. Model yang cocok untuk Bandung belum tentu sesuai untuk kawasan pedesaan di Nusa Tenggara atau wilayah dengan pola permukiman yang tersebar di Papua.
Karena itu, yang sebaiknya tidak dibawa pulang adalah kebiasaan menjadikan pengalaman di Eropa sebagai cetakan universal.
Belajar dari negara lain berguna ketika kita memahami mengapa sesuatu bekerja.
Ia menjadi berbahaya ketika kita berhenti bertanya di mana, untuk siapa, dan dengan syarat apa.
Yang tidak layak dibawa pulang: romantisasi efisiensi
Efisiensi juga memiliki konteks.
Proses yang terasa cepat dapat ditopang oleh integrasi data yang panjang, aturan yang kuat, infrastruktur digital, kapasitas fiskal, atau tingkat kepatuhan yang tidak muncul dalam pengalaman pengguna sehari-hari.
Maka ketika melihat layanan yang terasa sederhana, saya berusaha tidak berhenti pada antarmukanya.
Saya ingin tahu struktur di belakangnya.
Berapa banyak lembaga yang harus terhubung?
Siapa yang memelihara datanya?
Bagaimana kesalahan dikoreksi?
Apa yang terjadi kepada warga yang tidak cocok dengan alur standar?
Pertanyaan seperti ini penting agar “digitalisasi” tidak sekadar berarti memindahkan formulir kertas menjadi formulir daring.
Yang tidak layak dibawa pulang: rasa rendah diri
Mungkin ini yang paling penting.
Belajar di luar negeri seharusnya memperluas cakrawala, bukan membuat kita kehilangan penghargaan pada konteks sendiri.
Kita dapat mengakui bahwa suatu layanan di Belanda lebih nyaman tanpa menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia kurang mampu.
Kita dapat mengagumi ruang publik Groningen tanpa mengabaikan perbedaan iklim, struktur kota, kepadatan, pembiayaan, dan kebutuhan sosial.
Kita juga dapat mengkritik kekurangan di Indonesia tanpa menjadikan negara lain sebagai mitos yang bebas masalah.
Sikap seperti ini membuat perbandingan menjadi lebih dewasa.
Dari transfer pengetahuan menuju penerjemahan pengetahuan
Istilah “transfer pengetahuan” terdengar seperti sesuatu dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dalam bentuk yang sama.
Dalam praktiknya, mungkin yang lebih kita butuhkan adalah penerjemahan pengetahuan.
Prinsip yang sama dapat memerlukan bentuk yang berbeda.
Kota yang ramah manusia tidak harus terlihat seperti Groningen.
Administrasi yang jelas tidak harus memakai sistem yang sama dengan Belanda.
Budaya akademik yang terbuka tidak harus kehilangan karakter sosial Indonesia.
Kontribusi yang matang bukan membawa pulang sebanyak mungkin hal dari luar negeri.
Kontribusi adalah mampu memilih apa yang relevan, memahami apa yang harus diubah, dan cukup rendah hati untuk meninggalkan apa yang memang tidak cocok.
Menyaring pengalaman, menerjemahkan pengetahuan.
Catatan sumber
Fakta kontekstual dalam tulisan ini merujuk pada:
- Gemeente Groningen — Mobiliteitsbeleid, mengenai orientasi kebijakan mobilitas Groningen.
- Gemeente Groningen — Lopen, fietsen en verkeersveiligheid, mengenai prioritas berjalan kaki, bersepeda, dan keselamatan lalu lintas.
- BPS — Total Area and Number of Islands by Province, 2025, untuk konteks geografis Indonesia.
Tulisan ini merupakan refleksi penulis dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi kebijakan formal.
