Ramadan jauh dari Indonesia membuat beberapa hal yang biasanya terasa otomatis menjadi sesuatu yang perlu disusun ulang.
Tidak ada suara lingkungan yang serempak berubah menjelang berbuka. Jadwal kampus tetap berjalan. Rapat bisa tetap jatuh pada sore hari. Bahan makanan perlu direncanakan. Waktu untuk beribadah perlu ditemukan di antara pekerjaan akademik.
Di saat yang sama, justru karena banyak hal tidak datang dengan sendirinya, kebersamaan terasa lebih sengaja dibangun.
Jauh dari rumah, mendekat lewat ramah.
Ritme yang berbeda, makna yang tetap dijaga
Ramadan mengikuti kalender lunar, sehingga posisinya bergeser setiap tahun terhadap musim di Belanda. Artinya panjang siang, suhu, dan ritme keseharian dapat berbeda dari satu Ramadan ke Ramadan berikutnya.
Yang tidak berubah adalah kebutuhan untuk menyelaraskan ibadah dengan tanggung jawab sehari-hari.
Mahasiswa tetap menghadapi kelas, riset, supervisi, dan deadline. Peneliti tetap masuk laboratorium atau kantor. Karena itu, pengalaman Ramadan di Groningen sering terasa sebagai latihan mengatur energi dan komunikasi.
Kadang yang diperlukan bukan perubahan besar, melainkan keberanian menjelaskan kebutuhan kepada rekan: kapan perlu jeda, kapan lebih nyaman menjadwalkan pertemuan, atau bagaimana menjaga pekerjaan tetap berjalan tanpa mengabaikan ibadah.
Mencari ruang tenang di lingkungan akademik
Ruang untuk berdoa tidak tersedia di setiap gedung dengan cara yang sama.
University of Groningen mencantumkan fasilitas ruang doa pada beberapa lokasi, termasuk rujukan ke University Library dari sejumlah gedung di pusat kota. House of Connections juga memiliki ruang tertutup yang dapat digunakan untuk berdoa atau sejenak menenangkan diri.
Detail semacam ini tampak kecil sampai kita membutuhkannya.
Mengetahui bahwa ada ruang yang bisa digunakan membuat kampus terasa sedikit lebih dapat dinegosiasikan dengan kebutuhan pribadi.
Berbuka tidak selalu harus ramai untuk terasa hangat
Di Indonesia, Ramadan sering hadir melalui skala: keluarga besar, masjid, pasar, teman lama, dan banyak kebiasaan yang sudah terbentuk sejak kecil.
Di Groningen, lingkarannya bisa lebih kecil.
Beberapa orang memasak bersama. Ada yang membawa makanan dari rumah masing-masing. Ada yang hanya sempat bertemu setelah agenda kampus selesai. Ada juga yang memilih berbuka sendiri lalu bergabung pada kesempatan lain.
Tidak ada satu bentuk kebersamaan yang paling benar.
Yang terasa penting justru kesediaan untuk saling mengingat. Menanyakan apakah seseorang punya teman berbuka. Membagikan makanan tanpa membuatnya menjadi acara besar. Memahami bahwa jauh dari keluarga dapat terasa berbeda untuk setiap orang.
Lebaran dan rasa pulang yang tidak sederhana
Hari raya jauh dari rumah memiliki lapisan emosi yang sulit disederhanakan.
Ada syukur, tetapi mungkin juga rindu. Ada pertemuan baru, tetapi ada pula layar telepon yang menghubungkan kita dengan rumah beberapa ribu kilometer jauhnya.
Pengalaman seperti ini menunjukkan bahwa komunitas diaspora bukan pengganti keluarga.
Ia tidak perlu menjadi itu.
Perannya lebih sederhana dan mungkin justru lebih bermakna: membuat jarak terasa sedikit lebih ringan dan memastikan tidak semua momen penting harus dijalani sendirian.
Menjaga ibadah, merawat ukhuwah.
Catatan sumber
- University of Groningen — Faculty of Religion, Culture and Society: building facilities, yang merujuk ruang doa terdekat di University Library.
- University of Groningen — House of Connections accessibility, mengenai ruang privat untuk berdoa atau menenangkan diri.
Catatan redaksi: praktik ibadah dan pengalaman Ramadan bersifat personal. Informasi fasilitas dapat berubah; periksa kembali halaman resmi lokasi sebelum mengandalkannya.
