Tinggal jauh dari Indonesia mengubah cara melihat hal-hal yang sebelumnya terasa biasa.
Bukan karena jarak otomatis membuat pandangan lebih benar. Justru sebaliknya: tinggal di negara lain dapat dengan mudah membuat kita jatuh pada dua ekstrem. Kita bisa terlalu cepat menganggap tempat baru lebih baik dalam segala hal, atau terlalu defensif ketika menemukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan di rumah.
Bagi saya, pengalaman tinggal di Groningen lebih berguna ketika ia diperlakukan sebagai sudut pandang tambahan, bukan sebagai standar tunggal.
Menjauh untuk memandang, mendekat untuk memahami.
Jarak membuat hal biasa kembali terlihat
Di Indonesia, banyak hal diterima sebagai bagian dari keseharian: perjalanan yang panjang, trotoar yang terputus, layanan publik dengan pengalaman berbeda antarwilayah, ruang kota yang sangat padat, atau kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan banyak lapisan sosial sekaligus.
Ketika tinggal di Groningen, beberapa hal menjadi terasa berbeda karena desain kotanya memang berbeda.
Pemerintah Kota Groningen secara terbuka menempatkan kualitas ruang publik, berjalan kaki, dan bersepeda sebagai bagian penting dari kebijakan mobilitas kota. Groningen Bereikbaar bahkan menyebut sekitar 60% perjalanan di dalam kota dilakukan dengan sepeda. Angka itu bukan bukti bahwa satu sistem otomatis lebih unggul, tetapi menunjukkan bahwa perilaku sehari-hari dapat dibentuk oleh infrastruktur, jarak, aturan, dan kebiasaan yang saling mendukung.
Di sini saya belajar bahwa sepeda bukan sekadar kendaraan. Ia bekerja karena ada ekosistem yang membuatnya masuk akal: rute yang tersambung, parkir yang diatur, jarak kota yang relatif kompak, dan kebijakan ruang yang memberi tempat nyata bagi pejalan kaki dan pesepeda.
Pelajarannya bukan bahwa Indonesia harus menjadi Groningen.
Pelajarannya adalah bahwa perilaku publik sering kali mengikuti pilihan yang dibuat mudah oleh sebuah sistem.
Membandingkan kota kecil dengan negara besar membutuhkan kehati-hatian
Perbandingan juga bisa menyesatkan ketika konteksnya dihapus.
Data BPS tahun 2025 mencatat luas Indonesia sekitar 1,89 juta km² dengan 17.001 pulau. Skala geografis seperti itu membuat persoalan transportasi, pelayanan publik, pendidikan, energi, dan pembangunan daerah jauh lebih beragam dibandingkan pengalaman hidup di satu kota seperti Groningen.
Apa yang bekerja di kota yang kompak tidak dapat dipindahkan begitu saja ke Jakarta, Makassar, Ambon, Medan, Jayapura, atau ribuan wilayah lain yang memiliki kepadatan, topografi, kemampuan fiskal, dan pola perjalanan berbeda.
Karena itu, saya semakin berhati-hati terhadap kalimat sederhana seperti: “Di Belanda bisa, mengapa di Indonesia tidak?”
Pertanyaan itu terdengar tegas, tetapi sering kali terlalu pendek untuk persoalan yang panjang.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah: mekanisme apa yang membuat sesuatu bekerja di sini, dan syarat apa yang dibutuhkan agar prinsip serupa dapat bekerja dalam konteks Indonesia?
Yang terlihat sederhana biasanya ditopang oleh banyak hal
Salah satu pengalaman yang paling terasa adalah keteraturan.
Ketika jadwal bus dapat diperiksa, jalur sepeda dapat diprediksi, atau prosedur administratif dijelaskan secara bertahap, pengguna tidak perlu menghabiskan banyak energi untuk menebak langkah berikutnya.
Namun keteraturan yang terlihat dari luar biasanya merupakan hasil dari sistem yang tidak sederhana: basis data, anggaran, penegakan aturan, pemeliharaan, standar layanan, pembagian kewenangan, dan kebiasaan warga.
Itulah mengapa saya semakin tidak tertarik pada gagasan “meniru Belanda”.
Yang jauh lebih menarik adalah membongkar sebuah praktik sampai terlihat unsur-unsurnya.
Jika sebuah layanan terasa mudah, apa yang membuatnya mudah?
Jika sebuah ruang publik terasa nyaman, keputusan desain apa yang ada di belakangnya?
Jika warga bersedia bersepeda, apakah karena budaya, harga, jarak, keamanan, fasilitas, atau kombinasi semuanya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat pengalaman luar negeri berubah dari kekaguman menjadi bahan belajar.
Indonesia juga terlihat berbeda ketika dilihat dari jauh
Jarak bukan hanya membuat kekurangan Indonesia menjadi terlihat. Ia juga membuat banyak hal yang dulu dianggap biasa menjadi terasa berharga.
Kemampuan orang membangun relasi dengan cepat. Fleksibilitas ketika sistem formal belum sempurna. Kehidupan sosial yang sering kali tidak perlu dijadwalkan jauh hari. Keragaman bahasa, makanan, kebiasaan, dan cara hidup yang berubah hanya dalam beberapa jam perjalanan.
Sebagian kekuatan itu sulit masuk ke tabel perbandingan antarnegara.
Dan di situlah saya mulai memahami bahwa kemajuan tidak selalu berarti membuat Indonesia semakin menyerupai negara lain.
Kemajuan dapat berarti memperbaiki sistem kita dengan serius sambil tetap memahami karakter masyarakat yang dilayani.
Pulang dengan pertanyaan yang lebih baik
Belajar di luar negeri sering dikaitkan dengan membawa pulang ilmu.
Namun mungkin ada sesuatu yang sama pentingnya: membawa pulang cara bertanya.
Bukan hanya, “Apa yang lebih baik di sana?”
Tetapi:
Apa yang membuatnya bekerja?
Siapa yang memperoleh manfaat?
Apa biaya dan komprominya?
Bagian mana yang bergantung pada kondisi lokal?
Apa yang dapat diterjemahkan, dan apa yang sebaiknya tidak dipindahkan?
Jika pengalaman tinggal di Belanda hanya menghasilkan daftar hal yang lebih baik daripada Indonesia, barangkali kita belum belajar cukup jauh.
Yang saya harapkan justru sebaliknya: semakin lama berada jauh dari rumah, semakin besar keinginan untuk melihat Indonesia dengan lebih teliti—tanpa romantisasi, tanpa rasa rendah diri, dan tanpa perbandingan yang malas.
Menimba pengalaman, menajamkan pertimbangan.
Catatan sumber
Fakta kontekstual dalam tulisan ini merujuk pada sumber publik berikut:
- Gemeente Groningen — Mobiliteitsbeleid, tentang arah kebijakan mobilitas dan ruang publik Groningen.
- Groningen Bereikbaar — Get on your bike to school or college, yang menyebut sekitar 60% perjalanan di dalam kota dilakukan dengan sepeda.
- BPS — Total Area and Number of Islands by Province, 2025, untuk konteks luas wilayah dan jumlah pulau Indonesia.
Tulisan ini merupakan refleksi penulis. Perbandingan digunakan untuk memahami konteks dan mekanisme, bukan untuk menyatakan bahwa satu negara atau sistem secara keseluruhan lebih unggul dari yang lain.
