Groningen mudah disukai.
Kotanya relatif kompak. Sepeda ada di mana-mana. Pusat kota dapat dijelajahi dengan berjalan kaki. Kampus, perpustakaan, taman, pasar, stasiun, dan ruang pertemuan terasa dekat satu sama lain.
Bagi seseorang yang datang dari Indonesia, pengalaman itu dapat terasa seperti melihat gambaran kota yang sudah selesai.
Padahal kota tidak pernah selesai.
Dan Groningen tidak terkecuali.
Belajar dengan kagum, menilai dengan tenang.
Kekuatan yang terlihat memang nyata
Tidak perlu menyangkal hal-hal yang bekerja dengan baik.
Pemerintah Kota Groningen secara eksplisit menyatakan ingin memberi lebih banyak ruang bagi penghijauan, pertemuan, berjalan kaki, bersepeda, dan bermain. Dalam kebijakan mobilitasnya, kualitas ruang publik ditempatkan lebih tinggi daripada dominasi mobil.
Bagi warga, orientasi seperti itu terasa dalam pengalaman sehari-hari.
Banyak perjalanan pendek dapat dilakukan dengan sepeda.
Ruang kota tidak selalu meminta kita membawa kendaraan bermotor.
Berjalan kaki bukan sekadar aktivitas rekreasi, tetapi bagian dari sistem mobilitas.
Groningen Bereikbaar menyebut sekitar 60% perjalanan di dalam kota dilakukan dengan sepeda. Angka itu membantu menjelaskan mengapa sepeda terasa seperti bagian dari struktur kota, bukan aksesori gaya hidup.
Hal seperti ini layak dipelajari.
Tetapi belajar akan menjadi dangkal jika kita berhenti pada rasa kagum.
Kota sepeda juga harus mengatur terlalu banyak sepeda
Keberhasilan menciptakan kota bersepeda melahirkan persoalan baru.
Pemerintah Groningen mengatur parkir sepeda di pusat kota dan sekitar stasiun. Sepeda yang diparkir tidak sesuai aturan dapat dipindahkan. Pemerintah juga terus menambah dan menata kapasitas parkir karena jumlah sepeda dapat mengganggu akses pejalan kaki dan kualitas ruang publik.
Ini pelajaran yang penting: setiap kebijakan menghasilkan konsekuensi lanjutan.
Lebih banyak sepeda membutuhkan lebih banyak parkir.
Lebih banyak ruang bagi pejalan kaki memerlukan negosiasi dengan kebutuhan kendaraan lain.
Pusat kota yang hidup memerlukan pengaturan logistik, aksesibilitas, dan keselamatan.
Dengan kata lain, bahkan praktik yang sering dipuji pun tetap membutuhkan koreksi.
Kota mahasiswa juga menghadapi persoalan hunian
Hal lain yang mudah hilang dalam narasi ideal adalah perumahan.
University of Groningen secara terbuka mengingatkan mahasiswa untuk mencari hunian sedini mungkin. Universitas menyatakan tidak menyediakan akomodasi bagi seluruh mahasiswa dan menyarankan mahasiswa yang mulai studi pada September untuk berusaha memperoleh tempat tinggal sebelum 1 Agustus.
Pada periode kedatangan tertentu, tingginya permintaan bahkan mendorong universitas, organisasi mahasiswa, dan pemerintah kota bekerja bersama menyediakan akomodasi sementara.
Bagi awardee internasional, persoalan ini bukan catatan kaki.
Hunian menentukan biaya hidup, rasa aman, waktu perjalanan, kemampuan beradaptasi, bahkan kualitas awal pengalaman akademik.
Karena itu, mengatakan “Groningen adalah kota mahasiswa yang nyaman” tanpa membicarakan tekanan hunian akan menghasilkan gambaran yang tidak lengkap.
Dokumen komunitas LPDP Groningen sendiri menempatkan mitigasi adaptasi awal dan persoalan hunian sebagai salah satu alasan perlunya pendampingan awardee baru di Belanda. fileciteturn0file0L14-L20
Tidak mengidealkan berarti melihat mekanisme dan batasnya
Ada perbedaan antara apresiasi dan idealisasi.
Apresiasi mengatakan: ini bekerja dengan baik, mari pahami sebabnya.
Idealisasi mengatakan: ini bekerja dengan baik, maka tempat ini pasti lebih baik secara keseluruhan.
Perbedaan itu penting.
Sebuah jalur sepeda dapat sangat baik tanpa menjadikan semua kebijakan kota sempurna.
Sistem administrasi dapat terasa teratur tanpa berarti semua orang mengalami sistem dengan cara yang sama.
Universitas dapat menawarkan lingkungan akademik kuat sambil tetap berada di kota yang menghadapi tekanan perumahan.
Melihat dua sisi sekaligus bukan sikap sinis.
Justru itulah cara belajar dengan lebih serius.
Groningen sebagai laboratorium pertanyaan
Saya semakin menyukai gagasan bahwa kota tempat belajar bukanlah katalog solusi.
Ia adalah laboratorium pertanyaan.
Mengapa orang memilih bersepeda?
Bagaimana kota membagi ruang yang terbatas?
Apa yang terjadi ketika sebuah kebijakan berhasil terlalu baik?
Bagaimana institusi merespons kekurangan hunian?
Bagaimana mahasiswa internasional beradaptasi ketika sistem yang tampak rapi tetap memiliki celah?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berguna daripada membuat daftar “hal yang harus ditiru Indonesia”.
Karena ketika pulang, kita tidak akan menemukan Groningen dalam ukuran yang lebih besar.
Kita akan menemukan Indonesia—dengan skala, keragaman, kemampuan, sejarah, dan persoalannya sendiri.
Belajar tanpa menjadikan tempat belajar sebagai mitos
Mungkin salah satu bentuk kedewasaan dari belajar di luar negeri adalah mampu menyukai sebuah tempat tanpa menjadikannya mitos.
Kita dapat menikmati Groningen.
Kita dapat belajar dari kebijakan ruang publiknya.
Kita dapat mengagumi budaya bersepedanya.
Kita dapat mengakui persoalan hunian, biaya, akses, dan keterbatasannya.
Semua itu dapat benar pada saat yang sama.
Bagi saya, justru dari pandangan yang tidak sempurna itulah pelajaran menjadi lebih berguna.
Karena Indonesia tidak membutuhkan cerita bahwa ada tempat lain yang sudah menemukan semua jawabannya.
Indonesia membutuhkan orang-orang yang mampu melihat praktik baik dengan jernih, memahami syaratnya, mengenali batasnya, lalu menerjemahkan pembelajaran itu dengan rendah hati.
Mengagumi tanpa meninggikan, mempelajari tanpa menyalin.
Catatan sumber
Fakta kontekstual dalam tulisan ini merujuk pada:
- Gemeente Groningen — Mobiliteitsbeleid, mengenai arah kebijakan mobilitas dan ruang publik.
- Gemeente Groningen — Bicycle parking, mengenai aturan parkir sepeda di pusat kota dan area stasiun.
- University of Groningen — Accommodation, mengenai tanggung jawab mahasiswa mencari hunian dan anjuran memulai pencarian lebih awal.
- University of Groningen — Peak-arrival accommodation, mengenai akomodasi sementara pada periode kedatangan dengan permintaan tinggi.
Tulisan ini merupakan refleksi penulis. Groningen digunakan sebagai kasus pengalaman belajar, bukan sebagai tolok ukur tunggal bagi kota atau masyarakat lain.
